Selasa, 09 Desember 2008

Namaku Andre, umur 18 tahun dan aku masih kelas 3 SMA sampai akhir tahun ajaran ini. Aku dari keluarga yang berkecukupan dan tinggal di sebuah kawasan perumahan yang lumayan mewah di daerah Bekasi Timur. Jujur saja aku pencinta sesama jenis, apalagi dengan pria setengah tua alias berumur. Kenapa? karena aku yakin "Dia" sudah berpengalaman dan punya kesan tersendiri buatku. Kadang aku agak nekat untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginanku seperti yang akan kuceritakan saat ini.

Di sebuah daerah sebut saja kampung "X" dimana aku tiap 3 hari sekali kursus bahasa Inggris di situ, ada sebuah klub bulu tangkis. Kalau tidak salah "Bina Sehat Badminton Club" namanya. Tiap pulang kursus kulihat banyak bapak-bapak latihan badminton hingga jam 9 malam. Dari luar gedung tampak olehku sebagian bapak-bapak yang latihan bertelanjang dada dengan keringat yang membasahi badan mereka, berlari mengejar shuttlecock yang terbang kesana kemari. Keringat yang tersapu cahaya membuat badan setengah tua mereka menjadi mengkilat, membuatku selalu menatap ke dalam gedung.

Pernah sekitar jam setengah sepuluhan saat serombongan bapak yang hendak pulang mulai berjalan ke mobilnya, kulihat seorang bapak yang dapat membuatku begitu tertarik akan penampilannya, berjalan ke arah Opel Blazer hitam dengan handuk yang masih melingkar di leher tanpa kaus olah raganya dan hanya bercelana pendek dan bersepatu. Tergambar jelas dadanya yang masih kencang agak bidang dengan perut yang masih rata dan bentuk pahanya yang atletis. Kakinya tertutup oleh rambut-rambut kaki yang tumbuh menjalar hingga tertutup celana pendek warna putihnya. Tak henti-hentinya kuperhatikan bapak itu. Aku mencari alasan untuk bisa mendekatinya. Ahaa.. aku dapat ide.

"Maaf Pak, Bapak anggota di sini? kalau mau jadi anggota mesti daftar ke mana ya, Pak?"pertanyaan itu begitu mudahnya muncul dalam pikiranku.
"Iya Dek saya anggota. Kalo Adek mau, coba saja dengan Pak Sutaryo yang masih ada di dalam," balasnya seraya menunjuk seoarang bapak yang sedang merapikan net.
Saat kutatap badannya, okh.. tangannya, bulu ketiaknya yang lebat dan kedua putingnya begitu menggodaku. Aroma badan serta keringat yang baru disekanya benar-benar maskulin. Aku pun sudahngaceng dibuatnya. Sesaat kemudian dia berlalu meninggalkan pelataran gedung.

Minggu kedua bulan ini aku sudah terdaftar sebagai anggota di klub itu. Aku mempunyai banyak kenalan bapak-bapak dari tempat itu. Ternyata masih banyak bapak-bapak berpenampilan menarik selain Pak Anto yang iseng-iseng kuajak ngobrol tempo hari, dan otomatis aku pun mulai terlibat dalam obrolan-obrolan kelas bapak-bapak yang rada-rada menjurus ke hal-hal berbau seks.

Saat latihan, tak pernah kusia-siakan pemandangan indah badan bapak-bapak temanku itu. Pak Agus memiliki badan agak gemuk dengan kumis tebal, bulu dada dan puting coklat tua yang menarik. Kulitnya sawo matang. Pak Pur (Purnomo) berbadan lebih langsing dengan tubuh yang dipenuhi bulu-bulu tipis, tegap dan selalu bertelanjang dada kala latihan. Pak Anto juga punya badan bagus seperti yang sudah kuceritakan. Tapi ada satu lagi bapak yang paling menyita perhatianku, Pak Haryo biasa dipanggil Pak Har. Diantara bapak-bapak yang ada, dialah yang berbadan paling ideal, berkulit kuning dengan bekas cukuran jambang yang kebiruan di lehernya, berbadan besar, berdada bidang dengan sixpack yang hampir jelas serta puting susu kemerahan. Pak Har juga sedikit berbulu di bagian perut, dada, paha dan kedua betisnya. Sangat merangsang. Gerakannya pun gesit. Umurnya sekitar 48 tahun dan dia mempunyai 3 orang anak.

Malam itu kupancing dia bertanding denganku dengan tujuan agar dia bisa pulang belakangan. Dentang jam 9 terdengar dan gedung pun hampir sepi orang latihan, tinggal Pak Taryo si penjaga gedung, aku dan Pak Har yang masih beradu raket.

"Udah berapa-berapa Pak Har?" tanya Pak Taryo seraya melipat net dari lapangan satunya.
"13-9 nih Pak," jawabku.
"Biar ini nanti saya yang beresin Pak, Pak Tar bisa ke gardu satpam lagi.. habis lagi tanggung sih.." kataku.
Pak Tar mengangguk dan belalu meninggalkan kami.

Tak berapa lama aku dan Pak Har pun selesai, lalu kulipat net dan kutaruh di tempatnya.
"Ndre, Pak Har mau ganti baju dulu ya. Kamu kemasi net dan shuttlecocknya." kata Pak Har.
Aku hanya mengangguk dan buru-buru merapikannya dan bergegas menyusul Pak Har. Di ruang ganti kulihat Pak Har melepaskan kausnya, badan yang begitu indah kembali membuatku terangsang. Diam-diam kuperhatikan dia dari balik locker. "Okh.. Pak Har," batinku. Aku turut melepasseluruh yang kukenakan. Kemaluanku menegang dan mulai kukocok. Pemandangan indah bertambah manakala Pak Har mulai melepas celana dan melorotkan CD putihnya. Bulu-bulu paha dan perutnya menyatu pada kedua selangkangannya.

Batang kemaluannya lumayan besar. Itupun masih tidur. Dilapnya seluuh bagian badannya, kemudianmasuk ke kamar mandi. Aku hapal betul kalau kunci kamar mandi itu rusak. Terdengar siraman air beberapa kali. Karena terlalu terangsang, pikiranku kacau. Aku nekat masuk dan Pak Har kaget dengan apa yang kulakukan. Tanganku langsung memegang kemaluannya dan mulai mengemot kemaluan itu berulang-ulang. Kusedot dalam-dalam dan lidahku menjelajahi seluruh permukaannya. Pak Har begitu kaget dan mencoba berontak dengan mendorong kepalaku tapi tak kupedulikan itu. Sedotanku dan lidahku semakin menjadi. Dia mulai tenang, aku percaya dia mulai hanyut.

"Akh.. hmm.." erangannya, terdengar bibirnya digigit dan tangannya mulai membimbingku memajumundurkan goyangan kepalaku. Aku semakin terangsang. Kurasakan urat-urat yang tegang di permukaan kemaluan Pak Har yang sudah bengkak. "Pop.. pop.." suara rongga mulut yang bergesekan. Kuhentikan serangan mulutku dan mulai kukocok kemaluan Pak Har. Aku bangkit dari posisi jongkokku dan kujilati perut Pak Har, kemudian kedua putingnya. Kugigit sesekali dan dia menggelinjang keenakan. Kemudian dia meraih bibirku dengan mulutnya dan kami saling melumat.

Kami keluar dan menuju sederet papan bangku di depan locker. Pak Har duduk di sana dan kembali kukocok kemaluannya dengan mulutku. Tanganku memelintir putingnya, dan Pak Har terus menggoyangkan kepalaku. Sesekali kukocok juga dengan genggaman tanganku yang keras. Kedua buah zakarnya tak pelak kunikmati, kujilati dan kukulum hingga terbenam dalam mulutku. Kudengar nafasnya semakin memburu. "Aakh.. okh.. yaa.. hmm.." matanya merem melek menikmati seranganku. Semakin cepat kugoyangkan kepalaku. "Ndre.. Bapak mau keluar.." desahnya. Aku semakin semangat menyedot kemaluan besar Pak Har. "Aakh.. akhg.." dan, "Croot.. croot.. crot.."

Badan Pak Har yang kembali berkeringat, mengejang seraya menyemprotkan cairan maninya dalam mulutku berulang-ulang. Terus saja kuemot meski kemaluan Pak Har mulai melemas. Kutelan spermanya hingga tak bersisa dan kutelusuri perut dan dada Pak Har dengan lidahku. Dia sudah lemas sekarang karena kemaluannya kuemut lama-lama.

Kini giliranku mengocok kemaluanku. Tak begitu lama karena aku dalam puncaknya. Lalu, "Croot.. croott.." kumuntahkan spemaku ke arah dada Pak Har dan kujilati sisa cipratan-cipratansperma di dada Pak Har. Badanku pun melemas. Setelah itu dia mohon maaf karena tak mampu menahan dirinya tapi kukatakann itu bukan salahnya karena aku yang menginginkan kejadian seperti itu. Dia melarangku untuk menceritakannya pada siapa pun, biarlah ini menjadi rahasia kita katanya. Lalu dia pergi mandi, membersihkan badannya yang lengket. Aku pun mandi di kamar mandi sebelahnya. Aku benar-benar menikmatinya. Pikiran nakalku muncul. Pak Har itu baru permulaan, tunggu saja yang berikutnya.

Kami pulang sendiri-sendiri sekitar pukul setengah sebelas dan aku masih tak bisa tidur hingga pagi karena terus memikirkannya. "Okh Pak Har..fuck my ass.."

Itulah kejadian yang paling kusuka bulan ini, dan aku akan melakukan yang lebih gila dari ini.


video

cerita gay

-pRoYek jEmbAtAn

Jembatan Way Arong di daerahku akan direnovasi dan itu berarti aku harus lewat memutar jika ingin berangkat kerja, itu berarti mulai hari ini. Setengah bersungut-sungut aku berangkat ke kantor dan kembali lagi ke rumah sore itu dengan perasaan dongkol. Bagaimana tidak, rumah sewaanku tepat diseberang kali kecil yang akan dibikin jembatan itu, rasanya tanggung sekali kalau harus memutar karena terlalu jauh belum lagi kalau malam hari pasti sepi karena tak ada orang yang akan lewat situ.

Setelah membuka pintu aku masuk ke dalam rumah, membuka baju, lalu mengurus cucianku. Saat aku akan menjemur di belakang rumah, aku mendengar banyak suara-suara. Aku segera menuju samping dan ternyata tepat di tanah kosong samping rumahku sudah dibangun rumah ala kadarnya yang terbuat dari kayu. Setelah aku amati aku mulai paham, rumah itu tempat para pekerja menaruh bahan bangunan dan mungkin sebagai tempat mereka menginap saat malam hari.
Otak homoku segera berputar dan darahku berdesir saat aku membayangkan mereka mungkin menginap di rumah sementara itu. Masih aku melamun tiba-tiba seseorang datang dari arah samping, “Permisi mas,” ujarnya. Aku kaget karena tak siap akan kedatangan seseorang. Aku melihat seseorang yang tingginya kurang lebih 160cm dengan badan berkulit sawo matang dan badan yang kekar, rambutnya klimis dan tampangnya tidak terlalu tampan tapi sangat laki-laki. Ia tidak memakai baju dan hanya mengenakan celana jeans lusuh selutut sehingga dadanya yang kekar dan terbentuk serta perutnya yang berkotak-kotak seakan-akan melambai-lambai ke arahku. Belum lagi banyak bulu-bulu yang tumbuh di perut bawahnya. “Oh ya. Aduh jadi kaget, biasanya nggak ada orang,” kataku. “Iya, kenalkan saya Darno. Begini saya tadi sudah ijin sama pemilik tanah sebelah, karena kebetulan ada proyek perbaikan jembatan jadi kami minta ijin untuk tinggal sementara selama kurang lebih seminggu di tanah sebelah,” “Oh begitu. Ya sudah tinggal aja, yang punya tanah itu juga yang punya rumah ini,” kataku. “Ya terima kasih, sekalian nih mas. Kalau nggak keberatan kita bisa tidak mandi atau cuci baju di sumur belakang ini?” tanyanya.

HAHHHHHH…..!!!! “Apa aku nggak salah denger, MANDI…????!! di sini, disumur belakang rumahku!??!” kataku dalam hati. Ingin rasanya aku berlari dan mencium sumur itu untuk mengucapkan terima kasih, karena mandi disitu berarti semoga telanjang. “Oh ya nggak apa-apa mas, silahkan aja airnya kebetulan banyak dan bersih. Daripada mandi di kali nanti kena gatal-gatal,” kataku berpromosi. “Lagipula disini nggak ada siapa-siapa kecuali saya, jadi ya kalo mo mandi atau nyuci nggak usah risih segala.” Ia hanya tersenyum dan mengangguk, “kalau begitu saya permisi dulu ya mas, nggak enak masih ada kerjaan.” Dan aku masuk dengan hati berdegub-degub kencang menanti yang bakalan terjadi.

Benar saja, sekitar jam 4 sore aku mendengar tali sumurku berbunyi, dan aku cepat-cepat masuk ke kamar belakang yang aku jadikan gudang. Letak jendela kamar belakang tepat disamping sumur sehingga apapun yang terjadi disana pasti terlihat. Seperti sore itu aku melihat ada 4 orang pekerja yang sudah ada disana, mereka bergantian menarik tali sumur dan mandi, tapi aku sedikit kecewa karena tak ada satupun dari mereka yang telanjang, mereka mandi hanya memakai celana pendek.

Kemudian datang 2 orang lagi. Tubuh mereka berdua sama seperti lainnya dan aku mendengar mereka saling menyapa dengan ke 4 pekerja yang sudah ada disana terlebih dahulu dan tanpa basa-basi mereka menurunkan celana pendek mereka hingga kontol mereka terlihat jelas. Darahku mendidih melihat pemandangan itu, kontol 2 kuda jantan ada dihadapanku. Yang satu segera bergabung dengan mereka tanpa ada rasa risih sedikitpun, sementara satunya mencuci celana pendeknya. Aku melihat keempat orang itu sempat melirik ke arah mereka berdua, tapi mungkin ego mereka sesama lelaki membuat mereka akhirnya tidak perduli lagi.

Wah rasanya senang sekali, hari itu lebih dari 20 kontol dengan beragam ukuran bisa aku lihat. Terkadang mereka saling bercanda dengan menyentil batang kontol lainnya, atau ada yang diam-diam menarik jembut temannya yang cukup lebat. Ada yang bercanda dengan mempertontonkan gerakan ngocok kontol, ada juga yang memang ngocok kontolnya betulan, seneng banget melihatnya. Aku tak pernah bosan melihat mereka meski aku hanya jadi pengamat pasif saja.

Namun ada satu yang menarik perhatianku, ada seorang pekerja yang aku kenal bernama Widatmanto, teman-temannya biasanya memanggil dia Wiwit. umurnya sekitar 23 tahun, badannya tegap sekali dengan kulit sawo matang. Tingginya sekitar 160cm dan tidak terlihat terlalu tinggi, dan aku tahu setiap sore dia selalu ngocok diam-diam dan sudah 2 hari ini aku melihat dia sering ngocok kontolnya di pagi dan siang hari saat aku pulang untuk makan siang (terlalu dipaksakan karena aku sesungguhnya ingin ngintip aktifitas sumur siang mereka).

Kalau dia datang pasti kontolnya sudah tegang, ukurannya sekitar 16cm dan gemuk batangnya dengan kepala kontol yang besar. Dia sering menggesek-gesekkan batang kontolnya di tembok sumur yang licin, naik turun dan kadang diputar-putar, lalu biasanya dia mengerang kalau mau ngecrot. Sayangnya dia tidak tinggal disitu jadi aku tidak bisa banyak bicara dengannya.

Siang itu aku sudah mempersiapkan diri dan aku tahu dia pasti datang saat keadaan sepi. Dan tepat sekali, sekitar jam 1 siang dia datang padahal aku hampir saja akan pergi karena jam istirahat kantorku sudah habis. Tiba-tiba dia datang dan setelah tengok kanan kiri untuk memastikan tidak ada orang dia segera mengeluarkan batang kontolnya. Pintu belakang sengaja tidak aku kunci agar saat aku membuka tiba-tiba dia tidak sempat memasukkan kontolnya kembali ke dalam celana.

Pintu belakang aku buka dengan cepat dan aku bergerak keluar. Dia terlihat kaget dan tak siap dengan kehadiranku, namun aku sudah mempersiapkan semuanya dan aku bersikap biasa saja. “Oh maaf ada orang ya.” ujarku. Dia tersenyum canggung dan kontolnya masih menempel di dinding sumur. “Sampean lagi onani ya mas?” tanyaku langsung. Dia tersenyum lagi dan menjawab, “iya mas, aku nggak tahan rasanya pengen ngocok terus.” “Ya udah, terusin aja.” Dia masih malu-malu dan batang kontolnya tetap menempel tanpa bergerak. “Malu ya aku liatin, biasa aja lah mas aku aja biasa ngocok tiap malem.” ujarku. “Apa sampean mau aku bantuin? kalo mau ya masuk, nanti tak kocokin?” kataku semakin berani. Dia terlihat ragu dan aku melihatnya. “Belum pernah dikocokin ya mas, udah nggak usah malu-malu aku nggak bakal bilang siapa-siapa kok.”

Dia akhirnya masuk ke dalam rumah. Baru saja satu kakinya masuk ke dalam rumah, aku sudah memegang batang kontolnya dan menariknya ke dalam. Dia terlihat kaget, tapi aku bergerak cepat dengan menggunakan kakiku aku menutup pintu dan aku segera berlutut lalu mulai mengocok batang kontolnya yang besar dan berurat. Dia masih terlihat malu-malu dan hanya memperhatikanku. Sementara tangan kiriku mengocok batangnya, tangan kananku bergerilya dengan mengelus-elus kedua biji pelernya. Dia mulai mendesah-desah keenakan dan dia mulai menggerak-gerakkan kontolnya yang masih dalam genggamanku.

Kocokanku pada kontolnya semakin kencang dan dia juga mulai semakin aktif gerakannya. Aku hentikan aktifitas tanganku pada kontolnya sejenak dan dia menatapku dengan pandangan tidak setuju. “Sebentar ya,” kataku pelan menjawab ketidaksetujuan matanya. Aku membuka pakaianku satu persatu sampai telanjang bulat, kemudian aku tatap tubuh berototnya yang masih berpakaian lengkap hanya bagian celana lusuhnya saja yang sudah melorot sampai lulut. “Mas buka dong bajunya,” pintaku. Dia terlihat ragu, “Mau diapain mas?” tanyanya kemudian. “Sudah buka aja, pokoknya sampean pasti ngerasa enak,” Tuntutan birahinya yang sedang tinggi membuat dia pasrah dan membuka seluruh pakaiannya sampai bugil. Tubuhnya sangat seksi, tahu sendiri bagaimana bentuk tubuh mereka yang bekerja sebagai tukang atau kuli itu.

Aku berlutut tepat dihadapan kontolnya, kemudian aku elus-elus batang kontolnya yang bener-bener sudah tegang. Aku berniat mempermainkan emosinya dulu baru kemudian aksiku. “Wah nih kontol pasti udah ada yang punya ya?” tanyaku sambil mengelus-elus batang kontolnya dari bawah sampai ke ujung kepala kontol. Dia terlihat geli dan menggeleng, “Belum ada, siapa sih yang naksir aku,” “Tapi kalo kontolnya segede gini pasti banyak yang mau,” ujarku sambil kemudian mengecup lobang kencing di kepala kontolnya dengan bibirku. Aku bisa merasakan gelinjangnya dan tak lama cairan precum keluar meleleh dari lobang kontolnya. Dia tak menjawab pertanyaanku matanya terpejam.

“sudah pernah ngentot belum mas?” tanyaku lagi. Dia membuka matanya dan menatapku, “sudah, hampir tiap hari,” “Wah sama siapa?” kali ini aku bertanya sambil meremas lembut kantong pelernya, dia kembali menggelinjang. Belum sempat dia menjawab, aku menjulurkan lidahku dan menjilati seluruh bagian pinggir topi kepala kontolnya. “Ayo dong mas dijawab,” pintaku sambil meletakkan batang kontolnya di hidungku dan menggesek-gesekkannya, aroma kontolnya sangat khas, dan cairan lengketnya menempel di hidungku membuat suasana semakin seksi.

Dia terengah-engah, mungkin selama ini belum pernah ada yang memperlakukan kontolnya seperti itu. “Sama … sama lonte,” jawab dia akhirnya setelah aku kembali mengecup ujung kepala kontolnya. “Wah sama lonte kan bayar, mendingan sama aku gratis.” kataku. “KAlau sama lonte pasti belum pernah diginiin,” lanjutku kemudian dan setelah berucap itu aku langsung memasukkan batang kontolnya ke mulutku. Dia terlihat kaget dan tubuhnya sedikit tersentak, tapi kedua tanganku memegang pinggangnya sehingga aku bisa konsentrasi pada hisapanku.

Kontolnya yang punya panjang sekitar 16cm dengan diameter sekitar 4,5 cm itu setengahnya masuk ke dalam mulutku. Aku keluarkan lagi kemudian aku masukkan lagi sampai sedikit lebih dalam dari kepala kontolnya dan saat itu aku langsung menghisapnya kuat-kuat. Dia mengerang-erang dan aku merasakan kontolnya berdenyut-denyut, aku tahu dia akan segera ejakulasi sehingga aku buru-buru melepas batang kontolnya dari mulutku. “Kok dilepas?” tanyanya dengan nada sedikit kecewa. “Nanti sampean keburu keluar, kan belum ngentot aku,” Dia menatapku lagi dan kali ini agak lama, “Memangnya mas ini mau aku entot?” “Sama kontol segede ini? mana mungkin aku tolak,” ujarku. Aku kemudian memposisikan diriku dan memintanya mendekat dan menempelkan batang kontolnya di belahan pantatku. “Sampean entot aku ya, sama seperti sampean ngentot lonte-lonte itu,”

Dia langsung mengerti apa yang aku maksud, dia meludah lalu membalurkannya di sekujur batang kontol dan kemudian menempelkan kepala kontolnya di lobang anusku. Dia pasti belum pernah ngentot laki-laki sebelumnya karena dia langsung menekan batang kontolnya sekuat tenaga sehingga aku merasakan bagai disuntik dengan jarum besar saat kepala kontolnya membelah lobang anusku. Dia sama sekali tidak berniat berhenti sebentar untuk memberi kesempatanku bernafas karena dia langsung memasukkan seluruh batang kontolnya yang gede sampai mentok ketika bulu-bulu jembutnya yang sangat tipis karena habis dicukur menempel dikulit pantatku.

Dasar birahinya sudah dipuncak dia langsung memompa anusku dengan kontol besarnya tanpa perduli dengan diriku. Hebatnya dia langsung memompa kontolnya sekuat tenaga, meski terasa sakit sensasi pompaan batang kontolnya membuat rasa nikmat cepat menggantikan rasa sakit sebelumnya. Apalagi saat batang kontolnya hampir amblas semua dia seolah-olah menumbuk diriku sehingga aku bergoyang hebat dan berusaha agar tetap ditempat. Kantong pelernya yang menggelantung panjang juga kerap kali mengenai dan memukul-mukul biji pelerku sehingga terasa sedikit ngilu.

Batang kontol itu terus memompa lobang anusku dan nafasnya semakin menderu kencang. Apalagi saat ujung kepala kontolnya menyentuh sesuatu di dalam lobangku, rasa nikmat semakin terasa. Tak terasa tubuhku diselimuti keringat dingin karena rasa enak yang luar biasa. Aku berusaha untuk bertahan tapi rasa nikmat yang diberikan pekerja dengan nafsu besar dan liar ini membuatku tidak lagi bisa menahannya. Akhirnya pertahananku bobol, tubuhku bergetar dan rasa nikmat yang luar biasa secepat kilat berkumpul dari segala arah dan menyatu diujung lobang kencingku. Aku merasakan denyutan yang cepat dan berkali-kali dalam waktu singkat membuatku mengerang, lalu ….. CROTTTT …CROTTT…CROTTTT Spermaku muncrat berkali-kali sampai membasahi karpet yang ada di bawahku dan sudah sampai berkali-kali denyutan itu berhenti. Lalu sisa spermaku mengucur pelan dari kepala kontolku yang menghadap ke bawah.

Belum sempat aku bernafas, tiba-tiba kedua tangannya memegang bahuku lalu dengan suara yang kuat dia menghujam-hujamkan batang kontolnya, ARGGHHHH … ARRGHHHH… ARGGGHHH kira-kira begitu bunyi erangannya. Aku merasakan sampai lututku seolah bergerak beberapa senti kedepan. Lalu dia membenamkan seluruh batang kontolnya kemudian memutar pinggulnya tak karuan dan mengerang keras … ARGGGGHHHHHHH…. CROTTTTT …CROTT.. CROTTTT Aku merasakan semburan sperma berkali-kali didalam lobang anusku dan aku bisa merasakan betapa banyak semprotan spermanya seolah-olah dia belum pernah mengeluarkannya bertahun-tahun. Sperma yang tak tertampung meleleh keluar dan menjalar pelan dipaha belakangku dan jatuh kelantai.

Dia menjatuhkan kepalanya dipunggungku dengan batang kontol yang masih di dalam lobang pantatku. Aku mendengar dengusan nafasnya yang cepat, aku tahu dia sedang mengatur kembali nafasnya. Aku tersenyum puas akan kenikmatan yang kurasakan dan yang dia berikan baru saja.

Hari itu tidak seperti biasa karena ada pekerjaan aku pulang sekitar jam 17.30. Masuk rumah dan hanya mengenakan kaus dalam serta celana panjang seragam kantor aku bergegas ke belakang untuk mengangkat jemuranku tadi pagi. Saat aku di dapur aku mendengar suara orang mandi. Biasanya jam segini sudah tidak ada yang mandi lagi, jadi aku intip dari jendela dan ternyata ada 3 orang yang sedang mandi dan mencuci pakaian termasuk Wiwit yang kemarin ngentot denganku.

Melihat Wiwit sedang mandi telanjang dan kontol gagahnya yang berhasil memberiku kepuasaan, kontolku segera bereaksi lagi. Aku segera melepas celana panjang serta kaus dalamku dan hanya mengenakan celana dalam usang yang agak longgar. Maksudnya ingin menggoda Wiwit agar mau ngentot lagi denganku malam ini. Jadi aku segera keluar dan mereka yang ada disitu menengok. “Oh masih ada yang disini ya,” kataku pura-pura kaget. Aku menatap Wiwit dan dia juga menatapku lalu penampilanku saat itu. “Iya mas,” kata Darno si kepala tukang yang berambut cepak banget ini yang sedang mengeringkan badannya yang tegap itu dengan handuk. Gila … dalam keadaan dingin seperti ini saja kontolnya gemuknya ngegelantung dan yang bikin aku semakin kesengsem Jembutnya ternyata lebetttt banget.

Aku segera menuju tempat jemuranku dan dari sudut mata aku bisa melihat sepertinya Wiwit mendekati teman-temannya dan seperti mengatakan sesuatu dengan cepat. Setelah selesai aku angkat jemuran aku berjalan balik ke pintu dan diluar dugaan Wiwit mengatakan sesuatu yang bener-bener ngebuatku shock berat. “Mas Yud, kapan aku bisa ngentot mas lagi?” Aku bagai disambar petir dan segera kutatap ke area sumur itu melihat reaksi semua yang ada disitu.

Mereka semua ternyata sedang menatapku, ada yang tersenyum ada yang diam saja dengan mata ke arahku. Kontol-kontol itu sungguh menggoda dan aku nggak mampu lagi mengendalikan diri. “Sekarang aja yuk?” kataku penuh nafsu. “Gue boleh ikut mas?” tanya Darno, kepala tukang yang perutnya penuh bulu dengan kontol yang sudah setengah ngaceng. Aku dekati dia dengan tangan kananku memegang cucian. Tangan kiriku segera menyambar batang kontolnya dan meremas lalu aku tarik dia ke dalam. “Yang laennya kalo mau ikutan aja ke dalam,” kataku.

Terdengar suara agak riuh. “Nanti aku nyusul lah, tanggung nih,” kata seorang lagi yang sedang nyuci. Jadinya aku berjalan masuk sambil menuntun kontol Darno yang sekarang sudah ngaceng abis di dalam genggamanku. Kontol Darno ternyata lebih gemuk lagi dari kontol Wiwit dan terasa sekali lebih keras. Aku segera letakkan jemuranku di kursi sesampainya di dalam rumah dan segera berlutut.

Enaknya membayangkan akan ngentot dengan tiga tukang. Nggak perlu romantis-romantisan segala, langsung tancap dan entot, bener-bener gayanya laki-laki.

Kulirik ke wajah Darno dan dia menanti apa yang akan aku lakukan. Aku mulai mengocok-ngocok batang kontolnya sambil kuciumi arona di bawah biji pelernya. Aroma yang begitu khas. Tangan kiriku menekan batang kontol Darno hingga bagian bawah batangnya terlihat dan kepala kontolnya menyentuh sekitar perut. Aku julurkan ujung lidahku untuk menjilati bagian antara pangkal batang kontol bagian bawah dengan biji pelernya. Nikmat sekali.

Aku gigit-gigit kecil daerah itu sambil dibarengi sedotan-sedotan berkekuatan lemah. Dia menggelinjang sambil mendesah pelan. Kuciumi lagi daerah itu dengan hidung dan perlahan ujung lidahku menjalar naik ke atas melewati bagian tengah dari batang kontol bagian bawahnya yang agak menonjol. Dia terus mendesah dan ketika hampir sampai lidahku di bagian lobang kencingnya, aku merasakan rasa dari cairan yang sangat aku kenal. Rupanya dia sudah mengeluarkan cairan bening pembuka dan cairan itu terus mengalir. Aku jilati cairan itu, menelannya dan segera menuju sumber cairan itu.

Kukecup sedikit lobang kontolnya untuk membuat sensasi geli dan dia menyukainya. Kembali ujung lidahku bermain dan kuputar-putar di daerah itu serta bagian bawah kepala kontolnya. Sesekali gigitan pelan kulakukan di pinggir-pinggir kepala kontolnya. Ku tatap batang kontol nan gagah itu sekali lagi. Aku tahu apakah mulutku sanggung melewati kepala kontol yang gede banget itu. Disaat itu aku mendengar pintu belakang terbuka dan ada langkah-langkah yang mendekati kami.

Aku menarik nafas dan kubuka mulutku lebih lebar dan berhasil. Aku berhasil melewati kepala kontol itu dan sekarang aku sudah menyedot-nyedotnya dengan jemariku memilin-milin batang kontol Darno. “Gila .. enak banget …Shhhh ahhhh…” erang Darno. “Aku belum pernah di kenyot seperti itu, biniku mana mau” kata suara lain yang ternyata tukang bertubuh tinggi yang tadi sedang mencuci baju. “Sedotan dia enak, kamu bakal ketagihan,” kata suara yang aku kenal, Wiwit. Dia sudah di belakangku dan menarik celana dalamku hingga terlepas.

Sungguh aku sudah tak perduli apapun yang akan mereka lakukan yang jelas aku menikmati ini. Tangan kananku memegang pantat tukang bertubuh tinggi itu dan mendorongnya ke arahku hingga kepala kontolnya menyentuh pipiku. Sementara Wiwit sudah menempelkan batang kontolnya yang juga sudah ngaceng penuh diselah-selah belahan pantatku dan ia menggesek-gesekkannya. “Ini lobang yang bikin aku ketagihan. Lebih enak dari memek manapun, kalian bakal percaya gak bakal ada memek manapun yang pernah kalian entot yang lebih enak dari lobang dia.” kata Wiwit setengah promosi sambil tertawa-tawa.

Darno terus mendesah, dia sungguh menikmati sedotanku. “Enak no?” tanya tukang bertubuh tinggi yang sekarang kontolnya aku kocok-kocok. “He-eh,” jawab Darno pendek dengan mata yang terpejam menahan enak. Aku melepaskan sedotanku pada kontol Darno. Aku beralih ke kontol tukang bertubuh tinggi itu. Kontolnya tidak segemuk Darno tapi panjang sekali, sekitar 19cm seperti Darno jembutnya juga sangat lebat. Tapi aku sangat menaruh perhatian pada kantung pelernya. Kantung pelernya itu tertutup habis oleh bulu-bulu jembutnya yang lebatnya kelewatan banget.

Aku dengan rakus langsung mengenyot-ngeyot satu persatu biji pelernya yang membuatku kelimpungan. “Argghhhh…” tukang itu berteriak kaget. “Mas Darno, gesekin kontol mas di rambutku yah,” pintaku ke Darno. Dia mengangguk, sementara aku merasa kepala kontol Wiwit menempel-nempel di lobang pantatku, aku yakin dia bakal mengentotku sebentar lagi. Sensasinya sungguh enak, gesekan batang kontol di rambutku dan terkadang bagian bawah batang kontolnya yang hangat juga menggesek pipiku. Tukang bertubuh tinggi itu juga sudah mulai banjir cairan bening yang aku sedot terus sampai habis.

Darno kemudian melihat Wiwit yang menonjok-nonjok pelan lobang anusku dengan kepala kontolnya. “Wit, lo kan udah ngentot dia kemaren. Gue ngentot dia dulu ya, gue pengen nyoba,” kata Darno. Aku semakin sumringah mendengar ucapannya. Darno yang berbodi keren dan berkontol sangar ini bakal ngentotku, lobangku menjadi empot-empotan karena bahagia. Lalu aku mendengar Darno berkata padaku, “Pasti enak nih ngentot sama elo, tunggu aja ya sampe nanti kontol gue ngebelah lobang pantat lo”

Tukang bertubuh tinggi itu mendekat ke arah dimana kontol Darno sudah bersiap-siap mengentotku, begitu juga Wiwit. Mereka ingin melihat secara jelas kontol Darno menerobos lobang pantatku. Aku melirik kearah kontol Darno dan astaga, kontol itu benar-benar terlihat keras dan aku akan merasakannya sebentar lagi. Dengan kontol seperti itu, aku siap dientot dia kapan aja, termasuk sekarang. Aku segera memposisikan diriku agar dia bisa mengentotku dengan mudah.

Sekarang saatnya, tanpa basa-basi Darno langsung menekan kontolnya ke dalam lobangku. Aku menarik nafas berusaha menahan sakit saat separuh batang kontolnya masuk. Tukang bertubuh tinggi itu terlihat antusias dengan masuknya kontol Darno. Dia berkali-kali menatapku saat Darno sedang menekan kontolnya masuk. “Seret no..” tanyanya. Darno mengangguk dengan ekpresi muka sedang berusaha keras memasukkan kontolnya. “Gila nih lobang sempit bener,” katanya. “Coba kamu pilin pelan-pelan batangmu, pasti bisa,” Wiwit memberi saran.

Bener-bener gila sensasi nikmatnya. Dua laki-laki jantan berbadan tegap dengan kontol ngaceng teracung-acung sedang membantu kontol temannya yang juga jantan dan besar masuk ke lobangku. Melihat Darno kesusahan, aku lebarkan kedua kakiku agar lobangku semakin terbuka dan dia bisa masuk dengan lebih mudah. Keringat mengucur dari wajah dan badan Darno sehingga dia terlihat jauh lebih seksi dari sebelumnya. Dia menggeol-geolkan kontolnya seperti mata bor dengan jempol diatas batang kontol dan telunjuknya di bawah batang kontol untuk menopang gerakan ngebornya dan … PLOP…!!!! Masuklah kepala kontolnya yang besar itu.

Aku merasa lebih lega dan mulai merasakan rasa sakit lagi, tapi aku nggak bisa berlama-lama merasa sakit karena tiba-tiba dia langsung menimpakan seluruh beratnya ke badanku dan dengan cepat seluruh kontolnya amblas dan ujung kontolnya langsung mengenai sesuatu di dalam lobangku. Aku menjerit antara rasa sakit yang tiba-tiba dan rasa enak di dalam lobangku.

Wajahnya penuh dengan peluh dan dia menatapku sambil tersenyum. “Gimana, enak gak kontol gue?” ujarnya sambil menggeol-geolkan lagi pantatnya, sehingga bulu jembutnya yang lebet dan menempel dikulit pantatku terasa menari-nari dan menggelitikku menimbulkan rasa geli dan sensasi nikmat. “Argghhh… shhh… enak…” desisku sambil melonjok-lonjakkan pantatku ke atas. “Udah No, cepetan entot. Dia sepertinya udah nggak sabar.” kata tukang bertubuh tinggi itu.

Darno kemudian menarik keluar batang kontolnya sampai sebatas kepala kontol lalu ditekan lagi masuk. Dia mulai memompaku dan kontolnya terus memompa lobangku dengan kecepatan penuh. Aku seperti merasakan dimasukin mesin bor, tapi rasa enak terus menerus menerpaku. Aku semakin gila-gilaan menggeliat dan berkali-kali menahan diri agar nggak cepat keluar karena entotannya bener-bener enak. Dia terus mendengus dan memompaku. Dia tersenyum saat melihat ekspresi wajahku yang keenakan. “Gimana enak kan entotan gue?” tanya sambil terus ngentotku. “Ahhh setan …!! enak banget kontol lo… entot gue lebih keras .. ayo…” aku semakin liar. “Nih lo rasain sendiri,” katanya. Dia sama sekali nggak main-main, kontolnya ditusukkan dengan sangat kuat ke lobangku karena tenaga kulinya yang luar biasa. Aku betul-betul terengah-engah… “Terus … terus … ahhh enak…” ujarku.

Tukang bertubuh tinggi itu memposisikan dirinya seperti sedang push-up dengan kedua biji pelernya yang menggantung itu menempel di bibirku dan batang pelernya menempel melebihi daguku, sementara kepalanya menghadap Darno yang sedang mengentotku. “Tenang aja kang, nanti juga dapet giliran …” kata Darno saat melihat tukang bertubuh tinggi itu memperhatikan entotannya. “Akhhh …. enak sekali … arhhhh” Aku menjilati kedua telur terbungkus jembut itu, rasanya enak sekali. Aroma khas laki-lakinya membuatku semakin bergairah, belum lagi entotan Darno, aku terus mengelinjang keenakan.

Kulihat Wiwit duduk dilantai sambil ngocok kontolnya yang gede itu dan dia tersenyum saat melihatku sedang menatapnya. Aku benar-benar ingin kontol dan entah apa yang mempengaruhi otakku, tiba-tiba aku berkata “Ngentot berdua aja..” ujarku dengan susah payah. “Ayo masukin satu kontol lagi ke lobang gue,” Darno menghentikan entotannya. “Gila lo, mana bisa… satu aja masuk susah apalagi dua.” katanya. “Bisa,” ujarku. “Ayo gue udah nggak sabar pengen kontol lagi.” “Ya udah biar aku coba aja,” ujar Wiwit yang sepertinya juga nggak sabar pengen ngentot aku lagi.

Darno menarikku dan menaikkan ku ke tubuhnya sehingga dia dalam posisi menggendongku, tapi kontolnya tetep masih di lobangku. Aku rebahkan kepalaku dibahunya. Enak sekali sensasi ini, digendong laki-laki jantan dan kontolnya menancap keras di lobangku. Wiwit merebahkan tubuhnya, lalu Darno menurunkan aku. Dia memutar aku sehingga posisiku berganti dan wajahku menghadap wajah Wiwit. Aku rendahkan tubuhku dan tukang bertubuh tinggi itu tiba-tiba membantu dengan memegangkan batang kontol Wiwit yang sudah ngaceng itu dan mengarahkannya ke lobangku.

“Arghhh…” Erang Wiwit saat tukang bertubuh tinggi itu memegang kontolnya dan mengarahkan ke lobangku. Lalu Wiwit mendesakkan batang kontolnya. Karena lobangku sudah terbuka oleh kontol Darno dengan mudah kontol Wiwit masuk. “Ah… enak … ayo mulai entot gue … ayo cepet…” aku membakar gairah mereka. Darno langsung tancap gas begitu juga Wiwit. Dua kontol laki-laki jantan itu beradu di dalam lobangku. Aku berniat mengisap kontol tukang bertubuh tinggi itu, tapi dia menolaknya. “Jangan, nanti aku ngencrot di mulut kamu lagi. Aku mau ngentot kamu dulu,”

Aku yakin mereka berdua yang sedang mengentotiku ini juga merasakan sensasi lain selain enaknya mengentotku, yaitu gesekan antara batang kontol mereka sendiri. Gerakan mereka semakin liar, terutama Darno sampai-sampai Wiwit bilang agar Darno jangan terlalu kuat ngentotku karena susah buat dia mengimbangi. Tapi Darno tak perduli dan aku merasakan batang kontolnya semakin mengembang… “Argghhhh… SETAN …!!!!!” teriak Darno. Dan … CROT … CROT …. CROT, semprotan demi semprotan pejuh Darno memenuhi lobangku dan karena lobangku juga ada kontol lainnya, pejuh Darno meleleh keluar dan turun lewat batang kontol Wiwit dan membasahi jembut Wiwit. “Arghh .. pejuh kamu anget bener no, sialan kena kontolku sama pejuhmu,” ujar Wiwit. Darno hanya tersenyum saja. Sementara tubuhku sudah penuh peluh dan aku dirasuki rasa enak yang amat sangat.

Tukang bertubuh tinggi itu segera ambil kesempatan, dia menarik Darno. “Cepet lah .. aku dah nggak tahan,” Lalu kontol Darno tercabut dari lobangku dan dengan kasar dia menggantikannya. Kontol itu dengan cepat masuk dan ia langsung memompaku. Bunyi kecipak-kecipok dalam lobang pantatku yang penuh dengan sisa-sisa pejuh Darno di rojok oleh dua kontol menimbulkan rasa nikmat yang tak bisa aku tahan.

Kontolku menggembung dan kemudian aku mengerang keras … aku nggak bisa menahan diri lagi. CROT…CROT .. CROT …CROT … Semprotan pejuhku sudah tak karuan arahnya, menyemprot kesana kemari aku sudah tak perduli. Badanku bergoyang-goyang dientot dua orang dan aku sendiri kelojotan karena rasa enak yang luar biasa. Sepertinya tadi berliter-liter pejuh menyembur dari lobang kencingku.

Tukang bertubuh tinggi itu rupanya sudah tak tahan dengan apa yang terjadi, dia nggak mau tahu lagi dan dia juga meningkatkan kecepatan entotnya. “Kang pelan-pelan, nanti lecet kontolku,” kata Wiwit. “Bodo…!!” kata tukang bertubuh tinggi itu. Dia melakukan satu hujaman terakhir dan saat seluruh batang kontolnya terbenam dia mengerang keras … “ARGGGGGHHHH …” lolongnya. Kembali lobangku terasa sangat hangat, semburan demi semburan pejuh dari tukang bertubuh tinggi itu memenuhi rongga pantatku.

“Aku juga mau ngecrot…” ujar Wiwit dengan suara tersengal-sengal. “Jangan dikeluarin di dalam,” ujarku cepat. “Keluarin dimulutku, ayo cepat.” Wiwit bereaksi dengan langsung mencabut kontolnya dari lobangku dan berdiri menghampiri mulutku. Batang dan kepala kontolnya penuh dengan pejuh dari Darno dan tukang bertubuh tinggi itu, dan aku sangat senang karena ini yang kuinginkan. Pejuh dua orang yang tadi mengentotku sudah bersatu.

Aku segera menyambar batang kontol nan licin itu dan memasukkannya di mulutku dan kukenyot-kenyot. “Aw… Argghhh .. Arghhhh…” erang Wiwit tak karuan. Tak lama … Crottttttt satu, tiga, lima , tujuh … sembilan semprotan keluar dari lobang kencingnya dan semua aku telan. Ahhh bener-bener enak. Aku keluarkan batang kontol itu dari mulutku dan terus aku jilat-jilat untuk membersihkan sisa-sisa pejuh di sekujur batang kontolnya sampai kering tak bersisa.

“Gila bener-bener entotan yang hebat,” ujarnya Wiwit masih dengan nafas yang tersengal-sengal. “Kontol kalian semua tuh yang sedep bener,” “Kamu suka nelen pejuh yah?” “Suka mas, enak sih.. apalagi pejuh dari kontol-kontol gede dan jantan seperti kontol kalian.” Dia tersenyum. “Besok kita entot kamu lagi mau gak?” Aku mengangguk bahagia ngebayangin kontol-kontol besar ini bakal ngentotku lagi. “Kalo bisa sih bawa beberapa kontol lagi ya …” ujarku.

Mereka tersenyum dan aku tak sabar menanti.
video